Resolusi 2018


Pagi ini di instagramku banyak keluar foto foto dari tokopedia yang lagi menggalakaan event #gengkebut, yang maksudnya untuk mengajak followernya mengebut resolusi 2018 yang belum tercapai. Dan karena ini masih November, aku jadi pengen juga ngebut resolusi 2018-ku. 

Usut-usut dan searching lagi, sebenernya, reseolusi 2018ku apa ya?



Aku tidak ingat betul, karena kejadian akhir tahun lalu cukup bikin mental tidak tertata. Walau tidak berlangsung lama, tetapi membuat resolusiku jadi agak berantakan karena tidak sesuai harapan sebelumnya. Nah, sampai akhirnya tadi aku temukan statusku di tanggal 31 Desember 2017 jam 22:09. Disana cuma kutulis, “Goodbye 2017, goodbye tag #iamseventeen. Wellcome new year, wellcome new hope, welcome new tag, #iamphotograph and #yourmindjustinframe”.

Jadi, aku pikir kalimat inilah yang bisa jadi merupakan langkah awal aku mengawali tahun ini. Ternyata salah satu tujuannya untuk melupakan 2017. Ssudah hampir sebelas bulan berlalu, dan tidak akan terlupakan. Karena memang masalahnya bukan untuk melupakan, tetapi yang paling jelas adalah meninggalkan. Goodbye 2017. Dan untuk masalah ini, buat aku sudah selesai sejak tahun ini dimulai. Jadi meninggalkan 2017 bukanlah hal yang berat. Taukah kamu yang lebih berat adalah menjalani 2018nya. Inilah perjuangan. 

Pada point berikutnya, goodbye tag #iamseventeen. Tagar ini sebenernya aku tulis untuk memperingati tahun 2017 yang benar-benar aku ingin menikmatinya. Aku membuat tagar ini sejak desember 2016 dan aku siapkan untuk sengaja di pakai 2017. Yang mana tujuanku dengan tag #iamseventeen, maka aku benar benar menikmati 2017. Sepanjang tahun aku ingin menikmati setelah pada 2016 aku mengalami apa yang aku sebut #blankidea, kekosongan ide.

Tagar #iamseventeen pula, yang diartikan banyak temanku sebagai pengungkapan diri yang sok muda. Jadi dengan tagar itu, seolah olah aku meng-image-kan diriku sebagai anak muda yang masih 17tahun. Meskipun pada penggunaan kalimatnya aku sering demikian, tetapi tujuan awal #iamseventeen seperti yang kujelaskan diparagraf sebelumnya. 

Nah, dengan adanya tagar #iamphotograph dan #yourmindjustinframe pada 2018. Aku memposisikan diriku sebagai sebuah object/photo yang menunjukan bahwa setiap pemikiran hanya ada dalam sebuah frame. Filosofinya begini, Frame yang kecil, akan menampung gambar yang kecil, sekalipun gambar itu adalah pendangan yang luas. Berbeda dengan frame yang besar, meskipun yang ditampung hanyalah gambar sebuah mata, tetapi karena framenya besar, ia bisa menampung gambar mata dengan sangat detil hingga ke serat serat di bola matanya. Meskipun pada realitanya, tag yourmindjustinframe jarang aku pakai, ternyata setelah aku review, banyak juga yang satu tagar dengan itu.

Dengan tagar iamphotograph aku kembali membangun 2018 dengan memperluas frame. Ini adalah pemikiran awal ketika aku menulis status itu. Termasuk dengan kalimat wellcome new hope. selamat datang harapan baru. Secara langsung, pada 2018 ini aku sudah mendapatkan banyak sekali harapan harapan baru. Meski pada akhirnya harapan itu tetap tidak tercapai, tetapi selalu ada optimisme dalam setiap ketidak berhasilannya.

Aku menikmati 2018 ini meski berbeda cara menikmatinya dengan 2017.

Dan seperti yang ada distatus itu. Harapan-harapan yang muncul membuat aku semakin mengembangkan diri. Memperluas frame yang bisa menampung mindsetku lebih luas, lebih banyak, dan lebih dewasa. Aku mencoba banyak hal baru dengan photography sehingga menjadikan iamphotograph lebih relistis. Aku mengembangkan diri dengan semakin banyak membeli dan membaca buku. Aku mengembangkan diri dengan berta'aruf dengan beberapa perempuan. tidak sekaligus, tetapi bertahap.

2018 lebih tepat aku sebut sebagai tahun pengembangan diri. Diamana tahun inilah diriku bener bener merasa dikembangkan dari sisi religius dan kedewasaan. Dan kayaknya perut juga berkembang.

Banyak buku yang kubaca tahun ini lebih kearah parenting dan family education. Seperti yang pernah aku diskusikan dengan pamanku, bahwa semestinya ada hal yang harus kita lalui Yang kita sebut sebagai pendidikan pranikah. Apa gunanya? Untuk mempersiapkan, seperti apa sebenernya menikah itu. Apa peran istri, apa peran suami,  dan apa yang mesti dilakukan jika memiliki konflik, memiliki anak, apa apa yang akan terjadi pasca pernikahan. Solusi setiap masalah memang berbeda dan solusi yang dipelajari saat inipun belum tentu akan menjadi solusi setelah kita menjalaninya. Tetapi dengan pengetahuan itu, kita akan lebih siap. karena kita tahu, akan ada hal hal semacam itu pasca pernikahan nanti.

Ada dua pepatah lama yang aku suka, "pengalaman adalah guru yang terbaik, sebaik baiknya guru adalah pengalaman orang lain". Dengan membaca buku, kita berusaha mempelajari pengalaman orang lain. Agar kita mengerti apa yang mesti dilakukan dikemudian hari.

Pepatah berikutnya "kamu hari ini, adalah apa yang kamu baca 5 tahun lalu. Dan 5 tahun kedepan, kamu adalah apa yang kamu baca hari ini". Dan karenanya, membaca buku buku bijak yang memotivasi, setidaknta akan membangun kita pada 5 tahun kedepan menjadi lebih baik.

Dan ditahun 2018 ini juga, aku bertemu dengan banyak perempuan siap menikah. Bukan sebagai object yang sengaja aku cari, tetapi sebagai subject yang sama sama saling mencari. Berkenalan dengan mereka, membuat aku semakin memahami apa apa saja kekuranganku sebagai seorang yang menganggap diriku sudah siap menjadi suami. Setiap bertemu yang baru, aku selalu tahu apa kekuranganku. Mereka adalah barisan mentor mentor yang tanpa mereka sadari menjadikan aku lebih baik lagi. Menjadikan aku lebih siap dan matang. 

Dan menjelang akhir tahun ini, aku masih berta'aruf dan mengenal lebih baik tentang diriku. Seberapa baik dan seberapa buruk aku bagi masadepanku, dan bagi keluargaku kelak.

Mungkin aku perlu membuat draft resolusi 2019, yang lebih membangun, Lebih terarah, lebih terukur, lebih realistis. dan insyaaAllah tercapai.


Selamat menjalani akhir tahun. ada lebih dari 30 hari lagi untuk berubah. Selamat membangun pondasi 2019.

Comments