Pilih Jokowi apa Prabowo?



Tema ini lagi ngehits sekarang, secara pada April tahun depa bakalan kita pilih tuh, pak Jokowi atau Pak Prabowo buat jadi president pada 5 tahun kedepan. oke, emang siapa yang mesti kita pilih diatara mereka?

Sebelumnya, ini bukanlah kampanye, atau bukan juga tulisan untuk sengaja mendukung salah satu capres yang ada. Setiap Warga negara berhak memilih  siapa pemimpinnya, begitu juga aku, punya hak untuk memilih siapa yang akan menjadi pemimpinku.

Oke, apa dasarnya aku memilih? aku pernah mendengarkan sebuah kuliah subuh tentang jabatan, meminta jabatan, dan memberikan jabatan. ada dua hadits yang disampaikan disana, satunya ialah 
“Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kepemimpinan. Karena jika engkau diberi tanpa memintanya niscaya engkau akan ditolong (oleh Allah subhanahu wa ta’ala dengan diberi taufik kepada kebenaran). Namun jika diserahkan kepadamu karena permintaanmu niscaya akan dibebankan kepadamu (tidak akan ditolong).” (HR. Bukhori)
Itu adalah hadits tentang larang meminta jabatan, sedangkan satunya lagi tentang larangan memberikan jabtan kepada orang yang meminta jabatan. Hanya saja, hadits yang yang satu ini aku tidak mendapatkan redaksinya.

Jadi kesimpulannya, dalam kuliah subuh itu, disampaikan yang intinya jangan mencari jabatan, dan seandanya punya kuasa memberikan jabatan, jangan berikan kepada orang yang meminta jabatan itu. Nah, sekarang kalau ditarik ke Pilpres bagaimana?

Pilpress sudah jelas, mereka meminta jabatan, dan pada saat pilpress juga, posisi kita jelas. kita punya kuasa memberikan jabtan kepada siapa yang kita inginkan. nah loh, kalau laranganya kayak gitu bagaimana? 

Baik, pendapatku ini bukan berarti memberikan hukum halal saat memilih pemimpin di pilpress, tapi aku juga gak berani bilang haram. ini hanya pendapat pribadi. ada yang ingat kata Pak Mahfud MD ketika diwawancara tentang memilih presindent, pada salah satu statementnya, beliau bilang; “Saudara tidak boleh golput, kita melakukan pemilu ini bukan memilih orang yang bagus betul, tapi menghindari orang jahat memimpin negeri ini,” kata Mahfud MD, Senin 20 Agustus 2018

Jadi, siapa yang kita pilih? yang sedikit keburukannya. tidak ada oran sempunah yang baik sebagai pemimpin. nah, karena aku dilarang memberikan jabatan kepada orang yang meminta jabatan, maka aku berniat mencoblos dalam pemilu, demi mencegah orang jahat menguasai negeriku. siapa yang jahat? ya itu pendapatkanlah sendiri sendiri. 

Oke, lanjut ke soal tagar #2019gantipresident. seingatku, sampai saat ini aku belum pernah memposting yang intinya aku setju dengan gerakan itu. Bukan berarti aku pendukung, atau memilih jokowi, aku tidak tahu betul kenapa aku kurang setuju, sampai akhirnya pak Yusril Ihza Mahendra yang menyampaikan alasan yang selama ini aku cari. Gerakan #2019gantipresident itu tidak jelas tujuannya, mengganti jokowi tetapi tidak jelas digantikan siapa. kalau kata Pak Yusril, “karena ngotot 2019 ganti president, jangan jangan Jokowi vs Monyet pun, monyet yang akan menang.”, aku tertawa geli, tetapi masuk akal. 

Jadi, mestinya kalau pendukung prabowo ya mesti seperti tagarnya pendukung jokowi, misal #jkw2periode vs #2019prabowopresident misalnya, itu jelas. kalau hanya sekedar ganti, itu tidak mencerminkan perubahan yang sesungguhnya. 

kita lebih butuh kepemimpinan yang bisa diterima, entah pemimpin yang sama, atau pemimpin yang berbeda.

oke, jadi kamu pilih siapa jadi presidentmu?

note:
ini hanya pendapat pribadi, jika tidak setuju silahkan komen argumentnya, tidak membuka debat, tetapi terbuka dalam berdiskusi. trims.



Comments