Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti

Jatuh dan tersungkur di tanah aku
Berselimut debu sekujur tubuhku
Panas dan menyengat
Rebah dan berkarat

Yang,
yang patah tumbuh, yang hilang berganti
Yang hancur lebur akan terobati
Yang sia-sia akan jadi makna
Yang terus berulang suatu saat henti
Yang pernah jatuh ‘kan berdiri lagi
Yang patah tumbuh, yang hilang berganti

Di mana ada musim yang menunggu?
Meranggas merapuh
Berganti dan luruh
Bayang yang berserah

Terang di ujung sana
yang patah tumbuh, yang hilang berganti
yang patah tumbuh, yang hilang berganti


Puisi, entah bagaimana pemahaman kamu terhadap puisi. Tetapi untukku puisi adalah irama kata yang setiap pembaca memiliki nada sendiri. Puisi ialah kata penuh makna, yang setiap mata membaca dengan maksa yang berbeda-beda. Pernah aku mendengar Sapardi Djoko Damono mengungkapakan bahwa puisi itu bunyi. Permainan kata setiap kalimatnya.
Dan berbicara puisi, ada sebuah lagu yang menurutku di angkat dari puisi, setik liriknya adalah sajak yang menarik, dan begitu dala untukku. Judulnya seperti judul dari tulisan ini, yang patah tumbuh, yang hilang berganti.





Itu puisi yang manarik. Buat aku pribadi ada pemaknaan yang dalam untuk sajaknya. Setiap yang patah akan tumbuh, setiap yang hilang akan berganti. Setiap yang hancur akan terobati, dan yang sia-sia akan jadi makna.
Setiap katanya aku selalu memikirkan tentang apa yang selama ini ku alami. Apa yang aku sebut sia-sia akan jadi makna. Apa makna menunggu yang tidak ada ujungnya? Masih kupikirkan sembari tetap mendengarkan lagu ini.
Bait pertama mengatakan tentang kondisi yang telah terjatuh, tersungkur, dalam. Digambarkan seolah di gurun, dimana debu menyelimuti sekujur tubuh dan panas yang menyengat. Dan penggambaran rebah dan berkarat ini menambah pengertian bahwa kejatuhan yang dimaksud seperti layaknya tidak mungkin bisa kembali. Secara harfiah bagaimana manusia berkarat? Tetapi dari bait itu, aku merasa penekanan untuk makna jatuhnya benar benar jatuh.
Masih di bait pertama, sejatuh apapun kita mengalami kejatuhan. Mungkin kita akan menggambarkanny demikian. Tetpai tidak dengan kalimt seperti bait itu. Misalnya pelukis akan menggambarkan kejatuhannya dengan lukisan yang sangat menyayat bagi setiap penikmatnya, seperti musik yang kana mengalunkan simphoni yang mengiris-iris hati melalui telinga.
Bahkan setiap indra kita punya caranya sendiri sendiri untuk mengekspresikan kesediha kita, sekalipun kita tahan tahan. Mata akan mengeluarkan  cairan untuk membasahinya hingga berlebihan. Hidung pun demikian. Lidah semakin mengeluh. Kulit menegang dan telinga lebih peka. Penggambaran untuk kejatuhan.
Tetapi lagi ini bukan tentang kejatuhannya, karena di bait keduanya diingatkan bahwa jatuh tidak selamanya jatuh. Yang patah akan tumbuh. Yang hilang akan berganti. Demikian dikatakan sajaknya. Dan memang demikian adanya, yang berbeda dari setiap diri kita adalah lama waktunya. Itupun sangat bergantung dari diri kita, berapa lama kita mau terjatuh? Tidak akan pernah ada jawaban “masih lama” tapi sikap dan laku kita kadang tidak menunjukan bahwa kita ingin segera selesai dari masa jatuh itu.
Dan setelah kita mengerti bahwa yang jatuh akan berdiri lagi, kita akn bertemu di dua beris terakhir. Bayang yang berserah, Terang di ujung sana.

#abdillahwahab #artikel #puisi #lagu

Comments

Post a Comment