Sepasang Buta Kami

Sepasang Buta Kami, buta, sepasang mata

Langit itu tidak pernah kelabu. Tidak pernah suram. Keadaan demikan hanya karena kehilangan matahari, dan kedatangan  sekumpulan awan yang menghitam. Langit tetaplah langit. Ia tetap jernih. Bersih tanpa batas hingga bintang gemintang menjangkaukan cahayanya ke mata umat manusia. Jernih sejernihnya hingga biru langit siang hari yang merupakan bias cahaya matahari mampu menyilaukan tiap mata insan. Sedemikian diriku. Sebenarnya aku tetap aku, jernih tidak ada apa apa. Sampai matahari yang menyilaukan itu datang. Menjadikan diriku lebih indah. Menjadikan hidupku jauh lebih indah dari sebelumnya. Sampai kemudian matahari itu telah pergi dan awan hitam mulai berkumpulan. Badai tak terelakkan lagi. Hati ini terombang-ambing oleh angin. Basah, Kotor, Puing-puingnya entah kemana. Kilat dan cahaya sudah menghancurkan segalanya.

Ketika hati sudah hancur sedemikian, harpan apa yang bisa ku gapai? Aku hanya sendirian. Tidak ada harapan yang bisa diharapkan. Matahari itu pergi dan mendung itu datang di waktu yang bersamaan. Dikala orang tuanya menolakku karena pekerjaanku. Apa yang salah dengan pekerjaanku? Tidak. Tidak salah, yang salah adalah aku yang tidak bisa meyakinkan dia dengan pekerjaan ini. Kuli bangunan bukan hal yang tidak menjanjikan. Ada jenjang disana. Aku bisa saja jadi tukang yang bisa mengatur sendiri rumah yang nanti aku ingin buat. Aku mungkin tidak sekelas para arsitek, tapi aku mampu mengerjakan sama persis seperti yang arsitek buat. Ssetidaknya untuk bangunan kecil.

Dengan pekerjaan ini, aku yakin aku masih mampu mencukupi kebutuhan hidupnya. Meski aku sadar akan berat untuk memenuhi gaya hidup seperti yang diinginkan orangtuanya. Aku laki-laki. Aku yakin aku bisa memimpinnya menjadi yang lebih baik. Ke arah kehidupan yang membaik. Dan tentu ekonomi yang bertambah baik pula. Aku yakin. Tapi entah kenapa keyakinan itu runtuh seketika. Bukan aku tak yakin dengan pekerjaanku. Tapi aku tak yakin dengan hidupku. Setelah penolakan orangtuanya.

Keluarganya yang kaya raya. Memiliki banyak perusahaan realestate. Punya banyak kolega di pemerintahan. Sedangkan aku? Aku hanya kuli saja di salah satu perusahaan yang orangtuanya miliki. Seharusnya, jika mereka melihatku dengan hati.  Mereka juga tahu, bahwa aku bisa saja di masa depan membantunya mengurus perusahaannya. Tapi itu bukan iniatku. Niatku hanyalah memperistri dia. Itu saja.

Sekarang apa yang bisa ku lakukan? Dia sudah menjadi istri orang lain. Aku yakin, dia pun melupakanku. Bahkan aku yakin dia sudah lupa kalau aku dan dia pernah menjalin hubungan. Aku yakin itu. Setelah di pernikahannya tidak ada undangan untukku. Aku tidak sedih, tidak juga marah. Tapi aku merasakan demikian. Dia sudah lupa aku salah satu bagian dari masa lalunya. Untuk saat ini, aku anggap aku saja yang terlalu percaya diri menganggap pungguk pernah berpacaran dengan bintang.
-- -- -- --
Lima tahun lamanya aku memendan hati tidak bersuara. Aku tidak bisa menyampaikan apapun perihal apa yang sebenarnya diinginkan hatiku. Kekosongan demi kekosongan yang aku tidak bisa ungkapkan selalu saja menghantui setiap malam. Aku tidak bisa merayakan kebahagiaan. Tapi aku juga tidak bisa mengenang kesedihan. Semuanya selalu terasa hambar. Harapan masalalu sejak lima tahun lalu sebenarnya masih ada. Aku yakin masih ada. Tapi aku sendiri tidak percaya apakah aku masih mengharapkannya atau tidak.
 
Kemudian sebuah kabar mengejutkan dari salah satu temanku yang juga temannya. Tepatnya satu-satunya temannya yang juga temanku. Lewat percakapan yang awalnya tidak membahas tentang dia, tapi tiba-tiba ada pesan pendek di facebook ; “Empat bulan lalu, Vio bercerai dari suaminya. sudah tahu?”. “Baru tahu. Aku tidak pernah komunikasi dengan dia.” Balasku kubuat sedatar mungkin. Dan aku berusaha untuk tidak menanyakan apapun perihal itu. “Suaminya bangkrut, dan usaha orang tuanya juga ditutup karena terlibat korupsi di pemerintahaan”. Aku masih tidak mengerti harus membalas apa. Hati ku ingin agar aku tahu lebih banyak lagi. Tapi seolah ada yang menahanku untuk bertanya.

Aku sudah bersiap menjawab “oh. makasih infonya”, belum sempat ku Enter. Dia sudah mengirim chat baru “Dia sekarang tinggal di rumah tua bekas neneknya dulu bareng sama adiknya. Kamu bisa hubungi dia lewat Line @VIORA. Dia pesan, katanya kalau ada kesempatan ingin bersilaturahmi ke kamu”. Entah perasaan apa yang tiba tiba muncul. Aku bahkan tidak bisa menerjemahkannya. Apakah ini matahari yang sama yang datang lebih dari lima tahun lalu, Ataukah ini badai yang sama yang sudah memporak-porandakan hatiku selama lima tahun ini? Dan pada akhirnya, balasan yang kusiapkan tadi tetap ku Enter.
-- -- -- -- --
Sudah seminggu aku menambahkan nama Viora di list Lineku. Tetapi aku belum menghubunginya. Di ID line-nya terpampang fotonya sendirian ketika di pantai, sedangkan foto sampulnya di biarkan hitam. Dengan status di Line-nya “alone”.  Aku masih menimbang-nimbang apakah aku harus menghubunginya? Aku mengingat kembali kejadian demi kejadian sejak lima tahun lalu.

Dulu aku ditolak hanya karena pekerjaanku. Dan itupun kondisi mereka pada saat diatas. Kini keadaan berbalik. Meski aku tidak sekaya mereka dulu. Tapi saat ini aku lebih mapan dari mereka. Dalam lima tahun aku sudah bisa membangun rumah impianku sendiri. Aku sudah memiliki CV sendiri untuk mengerjakan proyek skala kecil di pemda. Aku sudah tidak sama dengan yang mereka tolak dulu. Mungkin sebenarnya, akulah yang pantas menolaknya sekarang.

Tapi ini soal hati. Tidak ada hal yang pasti. Baiklah, aku putuskan untuk menghubunginya. “malam viora. apa kabar?”. Pikiranku menerawang ke semesta yang hanya otakku yang menciptakan. Berusaha menggambarkan apa yang sedang dia lakukan saat ini. Saat ia membaca pesan Line ku. “kabar baik. maaf, ini siapa?” Siapa? Siapa? Seketika aku panik.
Kemudian aku sadar diri. Ah, iya aku lupa. Lineku tidak pernah menggunakan foto asli dan nama asli. Tentu saja dia tidak tahu. Sekalipun asli, lima tahun adalah waktu yang cukup untuk menumbuhkan Lupa. Bahkan aku percaya dia sudah lupa sejak hari pertama ia menikah.

“Aku Rio.”, jawabku singkat. Singkat sekali karena aku juga tidak mengerti harus bagaimana. Aku tidak tau selanjutnya aku ingin menanyakan apa? Ada banyak sekali ketidak tahuanku tentang dia. “ah, Apa kabar Rio? dapat line ku dari vivi ya? dimana kamu sekarang?”. Dia membalas dengan banyak pertanyaan. membuatku lebih ringan untuk melanjutkan percakapan.

Aku bisa melanjutkan percakapan ini. percakapan seperti dulu lagi. seperti kami masih dekat dulu. Tidak ada sekat. Aku bisa menanyakan kabarnya, keluarganya, bahkan termasuk mantan suaminya sekarang. Dan percakapan ini diakhiri dengan undangan untuk silaturahmi kerumahnya.

Di semesta Vio, selalu saja ada kesempatan untuk mengulang. Aku selalu melihatnya sejak dulu. Dia selalu memberikan kesempatan untuk orang lain melakukan hal yang sebelumnya salah, atau gagal dilakukan. Mungkin ini adalah salah satu kesempatan darinya agar aku mengulang kegagalanku lima tahun lalu. Mengingatnya, aku jadi merasa menjadi pecundang yang hanya bisa bangkit dari belas kasihannya.

-- -- -- --
Di rumah Vio, seorang perempuan dengan tongkat membukakan pintu setelah ku ketuk beberapa kali. Matanya sayu. Bibirnya berusaha tersenyum. Tanpa dandanan. Pakaiannya tidak rapi tapi bersih. Ini Vio? Aku tersentak. Sangat tidak percaya vio yang lima tahun lalu adalah matahari yang menyinariku. Kini seperti nyala apinya telah padam. “Vio?” aku menyapa masih tak percaya. Berharap aku salah.

“iya. Maaf ini siapa ya? Mohon mendekat wajahnya”. Aku mendekatkan wajahku, sampai sekitar lima belas centimeter di depan matanya. Kemudian dia kaget. “Rio?” dia tersentak. “iya ini aku”. Lama tercengang. “Boleh aku masuk?” aku berusaha memulai pembicaraan. “Tentu saja”.

Di rumahnya, dia menceritakan bagaimana kondisi sebenarnya dirinya. “Penglihatanku semakin hari semakin berkurang. Tepatnya sejak setahun lalu. Tahun ini adalah duka bagiku dan keluargaku. Suamiku bangkrut dan aku diceraikannya. Ayahku dan ibuku di tangkap polisi karena terlibat korupsi. Dan setahun belakangan mataku entah apa sebabnya semakin tidak bisa dimengerti. Bahkan dokter pun tidak tahu penyebab utamanya. Kata dokter, mataku bisa saja mengalami kebutaan penuh dalam beberapa minggu kedepan”.

“Apakah tidak ada cara untuk bisa menyembuhkannya?” Aku iba mendengar ceritanya.  Orang yang dulu pernah mengangkat harapanku menjadi seorang yang benar-benar dianggap ada. “Aku tidak tahu Rio. tapi melihat dan mendengar nada pesimis dari dokter, rasanya aku juga tidak terlalu berharap bisa sembuh. Mungkin memang salah satu yang harus kubayar untuk kesalahan dimasa lalu. Makanya, aku mengundangmu juga untuk meminta maaf atas perlakuan keluargaku dulu. Semoga kamu memaafkan.”

“Bagaimana aku tidak memaafkan jika kamu yang meminta maaf?” hati seolah ingin menjerit.  Akhirnya aku mengakhiri kunjungan itu. 
-- -- -- -- --

Sudah dua bulan aku tidak menghubunginya lagi. Ada semacam perasaan yang selalu mengganjal untuk menghubunginya petama kali. Tapi ada juga perasaan yang begitu menggebu-gebu untuk selalu ada untuknya. Terlebih di kondisi dia seperti ini. Akhirnya aku kirim pesan Line. Tidak di baca. Kukirim lagi. Masih tidak dibaca. Aku sedikit cemas. Akhirnya ku telpon dari Line. Diangkatnya. 

“Halo Vio, ini Rio. bagaimana kabar?” sapaku cepat.
Isak tangis diujung menjawab pertanyaanku. 

”Aku segera kesana!. Jangan kemana mana!”. Aku tidak bisa berpikir apa-apa ketika itu. Yang ku pikirkan hanya “pasti ada sesuatu” dan aku merasa perlu untuk membantunya. 

Dirumahnya hanya ada dia dan adiknya. Adiknya demam di kamarnya tanpa makanan, hanya sebotol air mineral dan sedikit obat. Entah dari mana obat itu. Masalah adiknya sakit bukan seberapa. Tapi, Vio sudah benar-benar buta. Sekarang aku mengerti kenapa chatku tidak dibalas. Aku segera membawa adik vio ke puskesmas agar ada yang merawat. Setelah mengurus semua keperluan di puskesmas, aku kembali lagi untuk menjemput Vio dan memeriksakan matanya ke rumah sakit.

Dirumah sakit, kenyataan yang lebih pahit aku dapati. Dan aku menyesal karena Vio juga mendengarnya. Seharusnya Vio tak perlu tahu agar harapannya tidak begitu jatuh. Matanya tidak bisa di sembuhkan.
-- -- -- --
Entah ini kebruntungan atau justru kenestapaan. Hidup sendiri tanpa orang tua membuatku mudah untuk memutuskan sesuatu tanpa pikir panjang. Tapi juga tidak ada yang bisa membantuku berpikir dimana keputusan yang terbaik. Kerap kali aku mengambil keputusan dengan ceroboh. Tapi aku tidak mau dengan yang ini. Aku tidak boleh ceroboh. Aku harus melakukannya. Demi apapaun yang selama ini aku lakukan, kali ini aku harus melakukannya.

“Sudah saya tanda tangani, Dok. Tidak ada kerabat saya kecuali tetangga yang ada diperumahan. Mereka kerabat juga keluarga saya.” Kuberikan surat pernyataan berserta tanda tanganku dan bermaterai. Keputusan Final yang kuambil.
-- -- -- --
“Rio. Rio.”, suara di telinga kiriku dan sentuhan di tangan kiriku. Aku masih memejamkan mata meski sedikit sadar dengan apa yang terjadi di luar. Seketika aku sedikit teringat tentang apa yang terjadi sebelum aku tidak sdarkan diri. Tepatnya sebelum dibuat tidak sadar. Aku di sebuah ruang operasi, penuh dengan rasa cemas tapi kucoba tetap dengan keyakinan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dan sekarang aku sudah mulai sadar meski aku belum bisa membuka mataku. Syukurlah, berarti semuanya baik-baik saja. Aku mencoba untuk menggerakan tangan kiriku untuk merespon panggilan itu.

Suara itu suara Vio. Aku tahu. Dan seketika itu pula aku berusaha untuk segera sadar sepenuhnya. Bagaimana mungkin Vio sudah sadarkan diri? Bukankah aku dan dia di ruang operasi ini bersama-sama. Bukan kah aku dan dia sama sama menjalani operasi yang sama? Oh, aku cemas.

Aku berusaha bangkit dengan berusaha sekuat mungkin membuka mataku. Dan cahaya mulai bersinar sedikit demi sedikit. Silau sekali cahanya. Hanya sedikit mataku terbuka. Mungkin jika di hitung waktu, waktunya bisa sampai 15-20 menit. Lama sekali mataku bisa terbuka. 

Setelah aku bisa membuka mataku dengan benar, wajah Vio berada di kursi roda di samping kiriku menangis. Adik Vio juga ada di belakangnya. Aku berusaha menarik nafas, tapi kemudian aku teringat sesuatu. Segera lekat-lekat kupandangi wajah Vio. Matanya. Matanya keduanya memerah. Tunggu. Sebelum aku tidak sadarkan diri aku dan vio menjalani operasi pencakokan mata. Aku memberikan mataku satu untuk Vio. Tapi kenapa Vio tidak berubah? Kedua matanya memerah.  Dan aku juga masih bisa melihat. walau sebelah mataku ada rasa nyeri. 

“Vio, Matamu?”. aku bertanya cemas. 

“Terima kasih Rio, Terimakasih. aku sudah melihatmu sekarang. aku sudah melihatmu. Aku bersyukur kamu sudah sadarkan diri.”

“Aku tidak mengapa Vio, aku baik baik saja. Syukur jika operasi mata ini berjalan baik. Aku bersyukur setidaknya bagian dari tubuhku bisa menjadi bagian dari tubuhmu. Sangat bersyukur”.

“Kamu tidak akan kehilangan apapun yang kamu berikan Rio. Tidak akan. Aku mau menjadi bagian dari hudupmu. Agar kamu tidak kehilangan apapun. Aku terlalu sering menyakitimu, dan kamu justru memberikan sesuatu yang aku tidak mungkin menggantinya.”

“terima kasih. Aku mencintaimu.”

Entah kebahagian dalam bentuk apa ketika sepasang mataku menjadi sepasang mata kami. dan entahkah memang cintaku sebegitu butanya hingga membuatku benar-benar buta sebelah. Dan mebuatku aku hanya bisa melihat dari sebelah mata dalam arti sesungguhnya. Aku bersyukur semuanya lancar. tapi, “Vio, bagaimana bisa begitu cepat matamu sembuh? Sedangkan aku baru saja siuman pasca operasi?”

Tangis Vio meleleh, antara senyum haru dan tawa yang kelihatan konyol. “Rio, entah ada kesalahn apa di operasi kita, kamu sudah Koma selama 4 minggu pasca operasi itu. Dan aku sudah mulai bisa melihat, tapi masih beberapa terapi untuk penyembuhan.”

Aku tersentak. Aku bersyukur karena ternyata aku masih hidup setelah sekian lama mati tanpa kusadari. Aku bersyukur, terlebih setelah sadar lima tahun penantianku tidak percuma.

Selesai.
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.
Thailand, 10-13 Oktober 2016
#blankidea - Abdillahwahab

Comments