Tiada kamu

“Pantai sore ini indah sekali” itulah kata yang kubisikkan kepadamu. Kalimat sederhana untuk mengajakmu menikmati pantai ini.
Di ujung lain sana ada tiga kapal nelayan yang nampak sangat kecil dimata. Ada awan menggumpal di sudut kanan belakang dari kapal kapal nelayan itu. Di balik bukit sebelah kanan itu, ada kapal besar yang berjangkar. Entah sengaja berhenti disana karena apa? Yang aku tahu, memang kapal sebesar itu tidak bisa lebih ketepi lagi.
blankidea, pantai, cerpen, puisi, prosa
Pantai

Di ujung kiri sana, juga di balik bukit, ada kapal yang baru saja menghilang dibalik bukit. Sebelumnya kapal itu pergi dari dermaga sebelah kiriku ini. Di dermaga itu sekarang sedang banyak bersandar kapal kapal nelayan. Mungkin memang sebenarnya bukan saatnya sekarang untuk berlayar. Aku baru kali ini datang ke pantai ini. Aku tidak tahu kamu sudah berapa kali kesini.
Masih di dermaga sebelah kiri, disana ada bekas tanggul ombak yang tinggi sekali, tetapi sudah hancur di hantam ombak. Entah sudah berapa tahun ombak itu menghantamnya setiap hari. Kepalaku masih menoleh ke kiri, aku berusaha mengingat-ingat apa saja yang ada disana. Jalan kecil yang hanya bisa dilalui motor, memanjang hingga ke atas bukit sebelah kiri yang sebelumnya kuceritakan kepadamu ada kapal yang hilang di baliknya. “Aku ingin ke atas bukit itu” bisikku kedua kalinya.
Dan kini aku menoleh ke arah kanan. Bukit disana, masih terlihat asri dari tempat ini. Masih hijau dengan pohon pohon. Aku berharap dalam hati itu bukanlah semak semak yang terlihat seperti pohon dari sini. Di ujung puncak bukit itu tidak terlihat apapun dari sini, semoga memang disana tidak ada apa apa.
Angin menerpa kulitku dengan rasa asin. Angin laut datang. Aku sedikit memicingkan mata masih ke bukit di sebelah kanan. Matahari sudah mulai sembunyi di balik bukit. Lalu aku menoleh sedikit kekiri dari padanganku. Gumpalan awan di ujung kanan dari nelayan yang aku ceritakan kepadamu tadi. Disana garis-garis cahaya seolah memaksa untuk menerobos gumpalan awan, agar bisa menyentuhkan cahayanya kelaut jauh disana. Aku, kamu, dan kita sebagai manusia yang ada di pantai ini hanya bisa menikmati sebuah tirai alam semesta sedang didelar di ujung laut depan kita.
Hanya sekejap sebelum bola mataku menyembungkan kornea untuk aku melihat ombak di depanku. Ombak yang sedari tadi aku duduk disini tidak sampai menyentuh kakiku. Dan kini sudah mulai menyentuh. Itu artinya laut mulai pasang.
Suara musik reggae memutar keras di belakangku, bukan dari penjual minuman, tetapi dari tukang parkir yang ada di luar kawasan pantai. Pemuda disana sembari mereka menarik dana untuk biaya parkir, juga menari nari ala reggae. Aku sedikit mengikuti iramanya.
Keindahan yang menawan untuk dinikmati. Dan satu-satunya kekuarangnya adalah, tidak ada kamu disini.

#blankidea #pantai #keindahan #puisi #prosa #cerpen

Comments