Membangun DIri

Membangun diri
Membangun diri

Kadang-kadang aku ingin menceritakan kisah hidupku. Anehnya cerita hidupku lebih sering tidak menarik untuk di dengar orang lain. Misalnya ketika aku ingin menceritakan pengalamanku di Sabak Bernam, Selangor, Malaysia beberapa bulan lalu. Aku kira tidak ada kejadian-kejadian menarik untuk diketahui orang lain. Walau sebetulnya kejadian demi kejadian itu sangat menarik untuk kudengar seandainya itu terjadi kepada orang lain.
Belakangan aku sering membaca kumpulan cerpen. Ada cerpen yang benar benar aku suka, ada cerpen yang buat aku biasa saja. Tapi kembali pada selera. Bukan cerpen itu bagus atau jelek. Bukan sebuah karya itu bermutu atau tidak. Ini hanya soal selera. Suka dan tidak suka. Ketika aku menulis pun ada beberapa temanku yang tidak suka. Ada juga yang suka. Yang lebih lucu, kadang aku sendiri yang menulis, tetapi aku juga tidak suka dengan tulisanku. Ya, ini selera.   
Misalnya aku cerita soal perjalananku ke Angkorwat, Siem Reap, Kamboja. Aku sudah mencoba beberapa kali menulisnya, tapi tetap saja, aku tidak tertarik dengan cerita yang aku buat sendiri. Ini kisah nyata, bagaimana dengan kisah fiktifnya? Aku pernah menulis sebuah cerita dengan judul "sebelum pulang". Beberapa temanku tidak suka dengan tulisan itu. Aku pun membacanya ulang. Dan memang aku juga tidak suka. Aneh sekali rasanya.
Tapi aku tetap belajar untuk tetap membaca dan menulis. Apa saja aku tulis. Cerita pendek, opini, sajak. Apa saja. Karena memang aku suka menulis. Menulis akan membuyarkan pikiran negatif di otakku. Aku bahkan tidak peduli dengan kulaitas tulisanku. Walau beberapa tulisan sengaja tidak kuterbitkan, karena setelah menulis sekian paragraf, ternyata aku tidak bisa melanjutkannya. Al-hasil, tidak mungkin aku menerbitkan sesuatu yang belum rampung.
Aku ingin menulis beberapa cerpen. Hanya saja ide dasarnya aku sudah tidak punya. Mungkin sebenarnya aku kurang piknik. Kurang begitu sering bertemu dengan orang-orang baru sehingga aku bisa membaca sekitarku untuk kujadikan cerita. Rutinitasku hanya rumah kontrakan, tempat kerja, komputer. Ya hanya demikian saja. Tentu sangat sedikit bahan yang bisa kau tulis. Karenanya aku banyak membaca untuk menambah hal-hal yang di dunia nyata sedikit sekali aku bisa dapatkan. Menulis di blog yang berupa opini seperti ini, membuatku seperti aku punya seorang teman. Teman yang dihadapanku sekarang sedang mendengarkanku. Teman yang tanpa banyak omong akan tetap menyimak setiap cerita-ceritaku. Tidak akan seperti teman yang sudah bosan ketika aku ceritakan hal yang itu-itu saja, mereka pasti akan memotongnya dengan kalimat "ah curhat itu-itu lagi". Tapi dengan menulis. Buku dan pena yang kugunakan, atau tablet dan keyboard tempaku menulis tidak akan pernah menjawab demikian. Bahkan ketika aku menulis kalimat yang nantinya akan kubaca sebagai doa pun aku sangat menyukainya.
Ya, kadang-kadang aku merangkai kalimat dulu untuk kusampaikan kepada Tuhanku. Bukan apa apa. Untuk perempuan yang aku cintai aku perlu membuatkan sebuah sajak. Tentu untuk tuhan yang maha penuh cinta aku kira merangkai kalimat dulu tidak ada salahnya. Toh setiap doa-doa yang diajarkan oleh para guru dan ulama, adalah kalimat yang di susun rapi sebelumnya.
Cara belajar paling cepat memang dengan membaca. Membaca kaya lain, membaca sekitar, membaca ekspresi wajah, bahkan jika bisa membaca hati orang lain. Membaca adalah cara belajar paling bagus. Bahkan ayat pertama yang turun sebelum enam ribu enam ratus enam puluh lima ayat yang lain pun bacaanya "bacalah". Perintah pertama untuk menyelesaikan belajar alquran adalah membaca. Karenanya aku sering membaca. Walau aku akui aku kurang membaca kitab suci itu.
Oke lanjut lagi. Aku punya cita-cita untuk bisa menerbitkan sebuah buku. Entah itu novel atau cerpen. Tapi bukan orientasi pada uang atau hal hal prestis. Ini hanya soal ambisi karena aku suka membaca buku yang tebal, maka akupun ingin membuat salah satu buku yang juga tebal. Dan karena ini hanya ambisi yang tidak ada tujuan apapun kecuali kebanggan pribadi. Makanya aku tidak terlalu menggebu bahwa ini harus dikejar dan selesai dalam waktu dekat. Tetapi aku tetap menyimpan itu, dan tetap aku kerjakan pelan-pelan.
Mengembangkan diri. Ya, selain membaca aku juga belajar membuka. Membuka pikiran dan hati agar bisa menampung lebih banyak informasi. Seperti bagaimana membuat kalimat itu lebih menarik dibaca dan sebagaimnya. Misalnya ketika aku ingin mengatakan "aku bosan menulis" mungkin aku akan menggantinya dengan kalimat "kasihan penaku, sudah bosan dia menulis". Ya sedikit membuat sudut pandang yang berbeda dari kebiasaanya. Apakah ini lebih baik dari sebelumnya. Lagi-lagi, aku membaca karena selera. Aku menulis pun sama. Apa yang aku tulis bergantung dari seleraku. Beberapa hal aku tidak suka menulisnya. Bukan karena tema-nya buruk atau hal itu tidak baik untuk ditulis, tetapi karena memang aku tidak suka. Ini selera.
Belajar membaca dan menulis.

#blankidea


#Puisi #Kumpulan #KumpulanPuisi #cerpen #kumpulanCerpen #blankidea #PuisiCinta #CerpenRomantis #Cerita #CeritaPendek #Blog

Comments

  1. Semangat ya :) penulis profesional adalah amatir yang terus menulis dan tidak menyerah. Good luck.

    ReplyDelete

Post a Comment