Liar

LIAR

Otakku sudah tidak bisa dikontrol lagi. Ia sering berputar-putar membuat aku tidak bisa berpikir. Tetapi kemudian memperlihatkan sebuah gambar yang aneh. Gambar yang tidak asing untuk kulihat. 

Mataku terbuka, di depanku ada laptop, iphone dan sepasang earphone. Meja kerja warna kayu, kemudia laptop menyala dengan walpaper fotoku ketika di gunung lawu. Tapi yang di terima otakku berbeda. Disana menggambarkan sebuah ranjang putih bersih. Lampu putih sudah padam, dinding putih bersih yang terawat. Dan tirai di jendela yang menari-nari tertiup angin dari luar. Sedangkan di luar sana pantai pasir putih menawan memberikan suara ombak yang menyejukkan. Sesejuk angin yang berdansa dengan tirai jendela.

Aku mencoba menyadarkan diri. Otakku seperti menangkap dejavu yang seharusnya aku bisa hilangkan sejenak. Aku perlu menulis cerita untuk blog ku. Tanganku sudah kusiapkan di atas keyboard laptopku. Aku bersiap menulis. Tetapi lagi-lagi bayangan di otakku mendadak menghapus laptop yang kupandang. Entah gerangan apa yang membuat darah dari mataku tiba-tiba berhenti memberikan informasi. Kini, visual yang jelas dan audio yang jernih merasuk di kepalaku. Suara air mengalir dari kran kamar mandi yang berada di kamar serba putih dimana aku masih melentang. Suara kran tiba tiba tertutup. Di susul suara dari gagang pintu kamar mandi yang terbuka. Tidak harus menunggu sekian detik. Berikutnya visual terang benderang tampil di otakku. Perempuan putih sexy berambut panjang. Memegang handuk merah hotel menggosok gosok rambut basahnya. Seluruh kulitnya bewarna putih. Seputih kamar yang serba putih ini. Jelas mataku melihat kebersihan tubuhnya. Tidak ada penghalang sedikitpun. Ia polos.

Aku mengedipkan mataku. Ah, visual kenbali menjadi laptop vaio merah yang kubeli tahun lalu di singapore. Disana aku hanya berhasil mengetik tiga huruf saja "aku" belum bisa keteruskan. Dan ketika aku mencoba untuk menulis huruf keempat. Visual di otakku kembali berganti. Perempuan telanjang bersamaku dalam satu kamar. Seharusnya aku kaget. Tapi lagi-lagi ini dejavu yang seolah aku sudah pernah mengalami. Perempuan itu tersenyum. Manis. Sambil membelakangiku menatap dia ke cermin. Di depanku ia tampak tidak menyembunyikan sesuatupun. Di otakku kemudian terdengar suara darinya berkata "kamu gantian mandi sekarang. Habis ini kita cari sarapan di restoran bawah". Jelas sekali terdengar. Dan sedikit aku sadar ternyata darah dari telinga ke saraf ku juga telah di bajak oleh sesuatu. Sehinggan suara itu bisa berputar di otakku. Padahal telingaku sedang mendengarkan lagu sheila on seven yang mereka beri judul seberapa pantas. Lagu yang cukup keras untuk membuat aku tidak mengantuk.



Aku kembali menyadar. Otakku sudah bisa lagi menerima informasi dari mata dan telingaku. Buru buru aku ke kamar mandi untuk mencuci muka. Berusaha agar bayangan kamar putih itu tidak kembali lagi. Aku buka dompetku yang tadi kutaruh di sebelah iphone. Masih ada kondom disana. Aku kedapur dan menbuat secangkir kopi dan iphone ku tidak jauh dari sana.

Belum begitu lama aku mengaduk kopi hitam pekat panasku. Racikan satu kopi dua gula. Adukan melawan arah jarum jam. Tidak pernah kulupa cara itu. Dan aku tersenyum karena tidak datang kembali bayangan kamar putih tadi. Tapi kemudian sesosok perempuan memelukku dari belakang. Tangan kanannya menumpuk di tangan kirinya. Sedangkan tangan kirinya menyentuh pusarku. Aku melihat ke bawah. Ah, aku hanya bercelana dalam warna putih. Sedikit kuputar kepalaku dan melirik perempuan itu. Aku sempat melirik bahwa ia juga hanya memakai celana dalam putih. Dadanya ditekan ke punggungku yang kemudian menggantung karena bibirnya sudah melahap bibirku. Sekejap saja. Karena kemudia dia melepas dan mengatakan "make a cup of coffee for u is my job" senyumnya menggairahkan. Sambil mengaduk kopi aku mendengarnya lagi bertanya "sudah siap?"

Sebelum akhirnya memulai permainan kembali. Sebelum kondomku di dompet keluar dari plastiknya. Aku kemudian tersadar bahwa aku sudah menyewa pelacur kelas atas untuk menemaniku dua hari ini. Membalas dendam kapada sakit hati yang di ujung pulau dewata sana. Orang yang kucintai menikmati bulan madunya dengan suaminya. Dan disini. Aku menikmati hal yang sama. Lebih nikmat layanannya. Lebih indah tempatnya. Di pucket, tempat terindah di Thailand.


#blankidea #Puisi #Kumpulan #KumpulanPuisi #cerpen #kumpulanCerpen #blankidea #PuisiCinta #CerpenRomantis #Cerita #CeritaPendek #Blog

Comments

  1. dilanjut dong ceritanyaaaaaa yang ini. lebih di perinci lagiiiiiiii hehehehehhehe

    ReplyDelete
  2. cerita ini di tulis pas lagi ngantuk. menahan kantuk agar tidak ngantuk. tetapi peperangan antara rasa ngantuk dan keinginan agar tidak mengantuk begitru kuat. sihangga muncullah imajinasi-imajinasu yang liar dan entah kemana.

    tulisan ini hanya fiktif untuk menggambarkan bagaimana perang sadar dan tidak sadar berkecamuk otak.

    ReplyDelete

Post a Comment