Kamu tentang apa saja

kamu tentang apa saja
kamu tentang apa saja

Malam ini di kamarku internet lagi putus. Tidak bisa akses internet. Tapi aku masih bisa menulis. Karena menulis tidak butuh internet. Tetapi sebagaimana biasanya, ketika aku tidak bisa tersambung dengan teman-temanku diluar sana, aku tidak bisa menulis dengan tema-tema yang biasanya aku bahasa dengan teman-temanku. Dan jika sudah demikian, maka di pikiranku yang terlintas hanya tentang kamu. Ya tentang kamu. Karenanyalah malam ini aku juga akan menulis tentang kamu. Apa saja tentang kamu.
Mari membahas senyum kamu. Senyum yang paling menawan untuk kunikmati. Setidaknya dalam semesta yang pernah kulihat. Senyummu lebih megah dari mega. Lebih jingga dari senja. Lebih sejuk dari embun pagi. Aku menyukainya. Tidak peduli bagaimana orang-orang menyebutmu. Tapi aku suka. Oke, mungkin itu hanya pandangan pribadiku saja. Sekarang mari kita coba untuk membuat senyum seperti itu. Aku rasa tidak ada orang lain di semesta ini yang bisa tersenyum seperti itu. Setidaknya di hadapan mataku. Aku dan orang lain di luar sana punya cara pandang yang berbeda tentang kamu. Diantara mereka ada yang memandangmu hanya dengan mata saja. Ada yang memandangmu dengan penuh systematika menganalisis. Tapi aku, dan sedikit orang yang mencintamu memandangmu dengan hati. Itu akan mempengaruhi penilaianku terhadapmu. Bahkan ketika aku melihatmu dengan hati, aku bisa mengerti mengapa kamu menjawab demikian atau  memutuskan demikian.
Kenyataan yang aku pribadi simpulkan. Setiap orang akan menilai keputusan orang lain berdasarkan apa yang dipercayai sebelumnya. Misalnya ketika aku percaya kamu baik. Seburuk apapun keputusan yang kamu ambil, aku akan berusaha percaya bahwa keputusan yang kamu ambil itu baik. Setidaknya baik untukmu dalam kondisi itu. Ya, termasuk ketika aku menilaimu dengan senyumanmu. Mungkin beberapa temanku akan memandang bahwa senyummu kepadaku itu sebuah penghinaan, atau pelecehan, atau sinis, atau lain sebagainya. Tetapi karena aku sudah percaya kepadamu, dan aku memandangmu dengan hati. Maka aku tetap merasa bahwa senyum itu selayaknya semesta menyambut pagi. Aku menyukainya.
Tutur katamu. Kata-katamu sederhana. Ya sangat sederhana. Aku bahkan bisa sedikit menyimpulkan kalimat-kalimat yang kamu berikan itu adalah sebuah bentuk penolakan yang lembut namun tegas. Tapi entah mengapa, justru kalimat itu yang membuatku tetap bertahan mendengarkan kata-katamu. Merangkai kembali kalimatmu. Membaca ulang setiap percakapan kita yang sudah aku simpan di drive onlineku. Kadang-kadang aku membacanya seperti membaca sebuah cerpen karya Dee Lestari. Menyenangkan dan menghanyutkan. Kadang-kadang juga aku ingin menulisnya kembali kedalam sebuah cerita. Tapi aku kira cerita itu tidak menarik untuk orang lain. Jadi aku putuskan untuk tidak membuat cerita apapun yang berhubungan dengan kamu.
Kamu menginspirasiku. Bahkan ketika aku sedang sangat terpuruk. Kadang-kadang aku merasa seolah-olah kamu memanggil-manggil namaku. Aku suka mendengarnya. Walau sebenarnya itu hanyalah fatamorgana diantara aku yang kedinginan atau kepanasan. Atau lebih tepatnya aku yang sedang kesepian. Lalu ketika ada seorang yang menyapaku. Maka panggilanmu itu secara mendadak menduduki palung paling dasar alam bawah sadar. Jauh sekali jika aku ingin menggapainya kembali.
Aku tidak benar-benar tahu siapa kamu sampai akhirnya aku kehilangan kamu. Benar-benar kehilangan kamu. Kehilangan tanpa pernah merasa memiliki. Tapi kemudian setiap kata demi kata yang sudah kutulis setiap harinya, membantuku untuk tetap dalam komitmen awal yang sudah ku ucapkan kepadamu. Menunggumu. Bukan mengenai sesuatu yang teramat susah untuk dijelaskan alasannya. Hanya saja itu teramat mudah untuk di bantah argumentasinya jika aku utarakan alasannya. Perasaan adalah hal yang tidak bisa di terjemahkan dalam bahasa tulis atau lesan. Ianya seperti bahasa biner. 0 dan 1. Bahasa yang oleh dunia bawah logika hanya bisa di pahami oleh komputer. Ya, bahkan manusia yang menciptakannyapun perlu waktu yang teramat lama, atau  perlu bahasa penerjemah untuk menerjemahkannya kedalam bahasa manusia. Bahasa perasaanku kepadamu tak pernah sampai. Walau aku tahu kita sama-sama mengerti.
Mari kita bahas masa depan bersamamu. Tapi aku kira kita tidak punya masa depan. Bahkan beberapa bayangan di kepalaku pun aku tidak sanggup melanjutkan imajinasiku. Karena entah kenapa aku tidak bisa membuat bayangan itu ada kebahagiaan diantara kita berdua. Jika aku bahagia, maka kamu akan bersedih. Dan jika kamu bahagia, maka aka yang akan bersedih. Begitu selalu yang terlintas di kepalaku. Aku tidak tahu kenapa bisa demikian. Tetapi itu adalah sebuah bayangan dengan dasar logika yang aku punyai. Aku tidak akan menampik seandainya salah satu dari bayanganku itu terjadi. Karena bagiku itu sangat masuk akal. Tetapi bagaimana lagi jika Tuhan punya rencana lain, yang sama sekali tidak bisa aku terjemahkan dengan bahasa logikaku. Semua bergantung pada rencannya.
#blankidea
#Puisi #Kumpulan #KumpulanPuisi #cerpen #kumpulanCerpen #blankidea #PuisiCinta #CerpenRomantis #Cerita #CeritaPendek #Blog

Comments