Aku Menanti, Kamu Menunggu

Menunggunya itu ritual yang tidak tahu bagaimana caranya istirahat. Sedangkan mengejarnya itu semacam ibadah yang tidak ada arah kiblat. Dan keduanya semacam bid’ah yang aku ciptakan sendiri. Menjadi hal yang begitu fardhu kujalani. Dan yang paling tidak bisa kujelaskan kepada orang lain adalah, Aku tidak tahu, aku mengejarnya atau menunggunya.
Dan kali ini pun kegiatan yang aku tidak bisa menyebutkan namanya. Duduk di pantai memunggungi laut. Ombak berada di belakangku, mungkin saja saling berkejaran. Karena memang demikian selalu adanya yang kita sebut ombak. Dan aku tahu itu dari suaranya, bersahutan bagai burung di pagi hari. Di depanku berjajar warung yang sampai sekarang aku selalu menyebutnya warung kopi. Meski dengan sadar aku tahu, menu utama yang dijualnya adalah minuman dingin, terlebih kelapa muda. Khas minuman pantai. Disamping kanan dan kiri berlarian anak-anak. Turis domestik yang memakai baju tertutup dan turis asing yang hanya berbikini. Kontras sekali. Tapi aku menjadi satu satunya kekontrasan di pantai ini. Menikmati pantai tanpa memandang pantai.
Aku Menanti, Kamu Menunggu
Aku Menanti, Kamu Menunggu

Entah kebiasaanku seperti ini sudah berapa lama kujalani. Setiap minggu pagi aku datang ke pantai ini. Jarak yang begitu jauh kutempuh. Tiga jam duduk di bangku motor maticku. Sesuatu yang entah kenapa jadi selalu ringan setiap minggu. Setiap aku ingin datang ke pantai ini.


Selesai.



Lisensi Creative Commons
Aku Menanti. Kamu Menunggu oleh Abdillahwahab disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial-BerbagiSerupa 4.0 Internasional.
Berdasarkan ciptaan pada http://www.abdillahwahab.com/2016/10/aku-menanti-kamu-menunggu.html.

Comments