Mari Menulis

Kata orang menulis itu menyembuhkan. Mari kita mencoba untuk menulis. Sejak SMP aku sudah menulis. Beberapa tulisanku kutulis dalam buku, yang sekarang entah kemana bukunya aku juga tidak tau. Tetapi ada yang dari SMA aku tulis tapi masih melekat di otak sampai sekarang.
Menulis adalah kegiatan yang menyenangkan ketika ada persaan yang ingin di sampaikan. Pengalaman menulis yang paling unik, aku menulis sebuah serat cinta dengan kertas fax. Ya surat cinta. Jaman aku SMA ketika berpacaran dengan kakak itu yang sudah kuliah, aku hanya menulis surat dan kutitipkan lewat adiknya (kakak kelasku).
Kenapa surat itu unik? Bukan dari kata katanya. Tapi dari fisik surat itu. Kamu pasti taukan bentuknya kertas fax? Panjang. Aku mengambil kerts fax, kupotong sekitar 1,5 meter. Semuanya kutulis penuh dan kugulung. Jadi suratnya seperti surat gulungan dari jaman dinasti china kuno.
Yang kedua aku menulis sebuah surat cinta kepadanya dengan kertas HVS biasa. Tapi aku tulis dari ujung kiri atas, sampai di ujung kanan atas, ku putar ke kiri sehingga menulis jadi dari ujung kanan atas ke kanan bawah, lanjut dari kanan bawah ke kiri bawah, berikutnya kiri bawah ke kiri atas, sampai bertemu di awal surat, lalu kulanjutkan seperti semula. Jadi bentuk tulisannya seperti lingkarnya obat nyamuk bakar.
Tau kah kamu apa responnya? Untuk surat yang panjang itu, responnya hanya. Gak kurang panjang Mas? Aku hanya tertawa. Tapi kemudian aku dikirimi sebuah buku novel dengan judul “Payudara” dan sebuah buku diary yang tiap hari ia tulis. Jika di pikir, ternyata balasannya suratku tadi jauh lebih panjang dari suratku. Hahaha
Untuk respon yang kedua dia hanya berkata singkat, “pusing mas”. Dan bagaimanapun juga, menulis itu memang bisa menghantar apa yang kamu rasakan.
Tak perlu panjang untuk menulis. Mari menulis dengan yang pendek pendek saja tetapi rutin. Sebenarnya untuk jaman modern saat ini, semuanya sudah menulis dengan pendek. Tulisan pendek di mulai dari SMS (Sort Message Service). Ketika kamu mengirim sms, yang isinya percakapan, mungkin itu hanyalah sebuah kalimat pendek yang tidak ada gunanya. Setidaknya hanya berguna untuk kamu dan orang yang kamu kirimi pesan.
Tapi bagaimana jika dalam pesan itu, kamu sedang curhat, kamu sedang menceritakan sesuatu tentang masalahmu? Sependek apapun itu adalah tulisanmu. Dan salah satu bentuk kegiatanmu untuk menyembuhkan sebuah luka, yang sedang kamu sanggah.
Menulis, adalah kegiatan yang semuanya pasti mau melakukannya. Meski sering beberapa orang  bilang, “aku gak suka menulis”.  Tetapi kenyatannya, ketika dia punya akun facebook  ketika dia punya media sosial. Dia akan menulis sebuah jawaban dari pertanyaan standart media sosial “Whats On your mind?”. Meski hanya satu kalimat “Aku kangen dia” atau tulisan yang paling konyol semisal “lagi berak di WC” itu adalah sebuah tulisan. Usahamu mengekspresikan dirimu dari sebuah hal yang perlu di sembuhkan.
Lalu, jika menulis itu menyembuhkan. Sebenarnya apa yang kita sembuhkan? Luka apakah yang sedang kita usahakan untuk sembuh dengan menulis?
Ketika kamu sedang berbahagia, kamu sedang menulis untuk mengajak semua orang berbahagia. Tulisanmu akan mempengaruhi mereka yang bersedih agar ikut bahagia. Ketika kamu menulis sebuah motivasi atau ajakan untuk bangkit, sebenarnya kamu juga sedang mengobati, atau lebih tepatnya kamu sedang melalukan usaha untuk menambah system imunitasmu dengan motivasi yang kamu bangun.
Sama halnya ketika kamu sedih, kamu sedang menulis, kamu sedang berusaha melepaskan sebuah beban, yang jika kamu katakan dengan lisan, belum tentu akan terlepas. Karenanya kamu butuh menulis. Bahkan kepada tuhan yang paling maha mendengar pun, terkadang masih perlu kita menulis sebuah surat kepada Tuhan. Hanya agar beban kita lebih terlepas.
Dan entah, kamu bahagia, terluka, sedih, senang, atau perasaan apapun yang kamu rasa ketika kamu menulis. Sebenarnya kamu sedang melepaskan diri dari sebuah luka, luka yang setiap orang rasakan. Luka yang kita sebut dengan kata “Kesepian”.
Mari menulis!

Baca Juga : Nonton Film

Comments