di Perpustakaan

Seorang Pemuda duduk di meja baca paling ujung perpustakaan kota. Di tangannya membuka buku dengan judul yang ditulis besar “Padre”. Buku itu adalah buku kumpulan cerpen karya Dewi Lestari. Penulis yang lebih dikenal dengan sebutan Dee Lestari. Dibawah bukunya tergeletak kartu anggota perpustakaan dengan nama Farras
Disampingnya ada Gadis memakai celana jeans, kaos hitam ketat dengan jaket tipis berwarna pink sedang memasukan buku-buku dan beberapa benda yang khusus hanya dimiliki oleh perempuan. “Mas, bisa nitip Tas ini sebentar? tolong jagain sebentar ya.” gadis itu bertanya kepada Farras disebelahnya.
“Oh bisa, tidak masalah” Farras membalas sambil menahan jempol kirinya di halaman tepat dimana ia terakhir membaca bukunya. “Sebentar saja kan mbak?” Lanjutnya dengan senyum yang ramah.
Gadis itu tidak menjawab apa-apa hanya tersenyum membalas senyum, sambil berlari kecil keluar. Sepertinya sedang di buru-buru.
Tidak sampai 1 jam, ada pria yang datang mendekati Farras yang sedang membaca buku tadi. “Mas, tas ini saya ambil ya mas. di suruh yang punya untuk ambil tadi.” Sambil tangannya memegang tas gadis tadi. Tidak hanya memegang, tapi sudah mulai menarik tas itu.
“Tunggu!” cegah Farras, dengan sigap ia menarik kembali tas yang sudah hampir di ambil. Bukunya tertutup rapat di meja. “Maaf mas, Tas ini dititipkan ke saya. dan yang punya meminta saya untuk menjaga. Kalau memang mas temannya, tolong kasih tau temen mas untuk ambil sendiri tasnya.” Farras menjawab mantap sambil berdiri seolah menantang, tetapi dengan pandangan dan senyum yang dijaga.
“Mas, yang punya gak bisa mengambil. dia menyuruh saya untuk mengambil.”
“Maaf mas, tidak bisa. Orangnya sendiri yang harus ambil. saya tunggu disini.”
“HEI. ini bukan barangmu yaaa. jadi jangan ditahan-tahan!!!” Suara pria itu mulai mengeras sambil berusaha mengambil tasnya. Kejadian itu mengganggu pembaca lain.
Farras masih tidak mengubah sikap. “Kalau memang kau temannya, apa susahnya menyuruhnya kesini dan mengambilnya sendiri?”
“Kau bikin masalah denganku rupanya?” Tangan pria itu sudah memegang baju Farras. Tiba-tiba satpan memegang tangan pria itu yang hampir memukul Farras. Sambil diseret keluar dia berteriak “Awas kau kalau ketemu lagi!” sambil jarinya tetap menunjuk kearah Farras. “
Sambil menenangkan diri dan merapikan tas yang dititipkannya itu, Farras menjawab beberapa pertanyaan dari satpan mengenai kejadian tadi. Dan beberapa pembaca masih riuh saling berkomentar bersama teman-teman mereka. Farras masih melayani pertanyaan dari satpam di perpustakaan tersebut.
Satu jam sudah berlalu, jam ditangan sudah menunjukan pukul 3 sore. Farras ingat ini jam sholat ashar. Dan sepertinya dia tidak ingin melewatkan sholat ashar tepat waktu, maka dia segera beranjak dari kursinya. Tentu dengan tas dia sendiri dan tas yang dititipkan kepadanya. Di meja itu di tempelkan note warna kuning kecil dengan tulisan
“Aku sedang Sholat. Aku akan Kembali. Tunggu saja. Tasmu bersamaku.
Farras.”

Baca juga : Selamat Pagi Dee
--
Sampai 20 menit kemudian Farras sudah kembali dari musholah perpustakaan, tidak ada yang menunggunya. Ia melanjutkan lagi membaca, didalam hatinya ia ingin gadis itu segera kembali dan mengambil tasnya. Mengingat tiga puluh menit lagi dia ada janji untuk keperluan lain.
Satu buku cerpen kecil sudah dihabiskan untuk dia baca. Ini waktu yang mau tidak mau Farras harus segera pergi. Karena ada hal lain yang harus dia kerjakan selain menjaga tas itu. Kemudian ia datang ke salah seorang pustakawan disana.
“Mbak, apa mbak tau gadis yang tadi menitipkan tas saya ini?” Farras bertanya ke pustakawan yang berjaga untuk mendata siapa yang akan meminjam dan mengembalikan buku.
“Maaf mas, saya kurang tahu ya.” jawabnya dengan senyum.
Farras bingung ia harus bertanya bagimana agar ada yang tahu siapa sebenarnya gadis yang sudah menitipkan tas itu kepadanya. Lalu ia putuskan untuk kembali ke meja dan menempelkan kembali sebuah note warna kuning. Kali ini dengan tulisan;
“Tasmu terpaksa kubawa pulang. Aku Farras. Besok aku akan kembali kesini pukul satu siang. Jika kau perlu tasmu segera. Telpon saja 085855606060. Farras.”
--  --
Hari kedua tepat jam satu siang Farras datang kembali. Ia duduk di meja yang kemarin dia tempati. Notenya masih ada. Tidak ada yang menambahinya degan pesan lain atau lainnya. Semalaman juga hapenya tidak ada bunyi panggilan atau sms yang mencari dia untuk menanyakan Tas yang dititipkan kepadanya.
Hari ini tidak ada buku yang ingin dia baca. Tapi dia ingin mengembalikan tas yang ia sendiri tau orangnya, tetapi tidak tahu siapa namanya. Ia mau menitipkan saja ke perpustakaan. Tetapi pihak perpustakaan juga tidak tahu siapa identitas gadis yang punya tas tersebut. Bagaimana memverifikasi bahwa orang yang pada akhirnya nanti mengklaim akan mengambil itu bisa dikenali?
Hanya satu jam Farras di perpustakaan itu. Ia kembali pulang dengan masih meninggalkan pesan di note kuning dengan tulisan ;
“Hari kedua aku menunggumu. Besok aku akan kembali pukul satu siang. Tasmu masih bersamaku. Farras”
-- -- --
Hari-hari berikutnya hingga hari kedua puluh tujuh Farras masih datang ke perpustakaan setiap jam satu siang dan kembali pulang jam dua siang. Selalu meinggalkan pesan yang sama. Hingga setiap pustakawan dan satpam yang ada disana sudah mulai mengenalnya. Bahkan kursi dan meja yang ia tempai sudah di kosongkan setiap jam 12 siang oleh salah seorang pustakawan. Khusus untuk farras, alasannya pelanggan tetapnya.
Pada hari kedua puluh tujuh itu Farras berpamitan ke beberapa pustakawan.
“Mbak, Mas, bisakah aku menitipkan tas ini disini? Jika nanti, entah kapan, ada yang mengambilnya, dan ternyata kalian tidak mengenalnya. Cukup tunjukan saja surat ini kepadanya untuk dibaca. Tapi jangan diberikan. Karena bisa saja besoknya ada orang lain yang akan mengambilnya. Sedangkan aku hanya menulis satu surat.”
“Bisa mas. Siap!” pustakawan perempuan nan cantik itu membalas.
“Saya besok mau berangkat ke Kalimantan. Mungkin sekitar satu tahun. Karena sudah lebih dari tiga minggu tas itu tidak di cari pemiliknya. Menurutku isinya bukan sesuatu yang sangat penting. Jadi kupikir bisalah kutunda sampai tahun depan untuk di ambil orangnya.”
“Iya mas. Tak apa. Tapi mas Farras ada nomor yang bisa di hubungi kan?”
“Ada. pasti ada. Nanti mbak saya kasih.”
Didalam surat itu, Farras sengaja menulis perihal berpamitan dan menunjukan bahwa barangnya masih aman. Meski selama ia pergi, Sang pemilik asli tidak akan bisa mengambilnya tanpa persetujuan dari Farras. Tas itu bisa di ambil setelah Farras kembali dari Kalimantan.
Dear pemilik Tas cantik warna hitam
Namaku Farras, sengaja kutulis kembali namaku. Karena aku yakin selama dua puluh tujuh hari ini kau belum membaca pesanku. Salam kenal tentunya.
Tasmu masih kujaga sampai saat ini. Aku tidak menyerah dengan amanahmu untuk menjaga tas ini. Aku tidak tahu apa isinya. Aku bahkan tidak mengenalmu. Tapi karena aku sudah menyatakan “bisa” untuk menjga tasmu. Sehingga aku benar benar berusaha menjaganya. Bukan untukmu. Untukku sendiri, untuk kesanggupan yang sudah kunyatakan.
Hari ini terpaksa aku pindah tangankan tasmu. Untuk menjaganya demi aku. Kuharap pihak perpustakaan bisa benar benar menjaganya.
Jika engkau membaca surat ini, berarti engkau sudah bisa melihat tas-mu. Tetapi mohon maaf engkau belum bisa mengambilnya. Karena dari semua pustakawan yang ada. Ternyata tidak ada yang mengetahui siapa sebenarnya dirimu. Sehingga, hanya aku yang punya hak untuk memberikannya kepadamu.
Setahun lagi ketika aku pulang aku akan datang ke perpustakaan ini. Pada saat itu, aku harap aku mendapatkan kabar bahwa ada kamu yang ingin mengambil tas ini.
Semua identitasku ada di pustakawan. Kau bisa menanyakannya. Mohon maaf karena tidak bisa menjaganya dengan diriku sendiri.
Salam, Farras.
-- -- -- --
Baca Juga : Terima Kasih Untuk Tuhan
Setahun telah berlalu. Farras datang kembali mengunjungi ke Perpustakaan. Bebrap petugas senior yang sejak tahun lalu masih bekerja disana menyapanya. Salam dan senyum menghiasi mereka.
Farras masuk keruang baca dimana tempat dia dulu menunggu gadis yang menitipkan tas kepadanya. Ia kaget.
Meja dan  kursi yang dia pakai untuk membaca dulu sudah tidak ada. Meja-meja yang lain disebelahnya dibiarkan, tidak dipindah. Diganti dengan sebuah lemari kaca kecil, seperti sebuah etalase berisi sebuah tas hitam. Tas yang oleh pemiliknya dititipkan kepadanya. Di kaca depan tas itu, ada foto copy surat yang ia tulis untuk pemilik tas tersebut.
Pustakawan yang dulu menerima tas itu menghampiri Farras. “Saya yang minta ke pihak managemen untuk membuat etalase ini mas. Hanya agar lebih muda saja kami semua menjaganya. Bisa dilihat dari manapun. Dan cctv juga terpasang.”
“Apakah ada yang menanyakannya?” tanya Farras.
“Ada mas. Dia menulis nama dan nomor hapenya dengan pensil di foto copy surat sebelumnya. Tunggu sebentar yaa.”
“Baik mas”
Farras membaca pesan singkat itu setelah diambilkan oleh pustakawan tadi.
Dear Farras.
Terima kasih sudah menjaga tasku. Namaku Bena.
Hubungi aku jika kau telah kembali. 085855566998
Salam, Bena.
Farras langsung melakukan panggilan ke nomor tersebut di hapenya. Menyambung.
-- -- -- -- --
Pukul satu siang. Waktu yang selalu dipakai Farras untuk datang ke perpustakaan dan menunggu seseorang untuk mengembalikan sesuatu kepada pemiliknya. Bagi sebagian pustakawan baru yang belum tahu. Ini seperti seraogn pemuda yang menunggu kekasihnya untuk bertemu. Tetapi ini bukan kisah antara dua kekasih. Ini hanya kisah tentang barang yang dititipkan, dan harus dikembalikan. Dan pada hari ini, kisah barang titipan itu harusnya berakhir.
Farras duduk di bangku sebelah etalase yang berisi dengan tas hitam. Di tangannya ada sebuah kunci yang bisa di pakai untuk membuka etalase itu. Hari kemarin setelah ia menelpon Bena, mereka janjian di perpustakaan ini, pada jam satu siang.
Tidak lama setelah Farras duduk, seorang perempuan dengan memakai jaket warna biru datang. Bena.
“Siang mas.” sapanya.
“Oh, Siang mbak. Selamat siang” Jawab Farras dengan senyum lebar seolah bebannya telah jatuh. “Silahkan duduk dulu” sambil tangan Faras mengambil kursi disebelahnya. “FARRAS!” Farras mengayunkan tangannya untuk berkenalan. Kenalan yang resmi tentunya.
“Bena”, jabatan tangan membalas Farras diberikan oleh bena. “Saya sungguh sungguh minta maaf ke Mas Farras.” sambil ia duduk. “Saya jadi merasa sangat bersalah ke Mas Farras karena jadi sangat repot untuk menjaga tas saya. “
“Oh, sama-sama mbak. Saya juga minta maaf karena saya ternyata juga tidak bisa menjaganya sendiri. Pada akhirnya saya harus menyerah dan meminta bantuan pihak perpustakaan untuk menjaganya. Tapi, “ Farras menegakkan duduknya dan melihat tajam ke Bena. “tasnya jadi diambil sekarang kan?” tiba tiba sorot matanya jadi memohon.
“Iya mas. Iya. saya ambil sekarang. “ senyum malu dan merasa sungkan nampak diwajahnya. Farras langsung membuka etalase. Mengambil tas, dan segera memberikannya kepada Bena.
Para pustakawan menyaksikan dari jauh. CCTV juga merekam apa yang dua orang itu lakukan. Dan beban Farras selama setahun lebih telah selesai.
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.
Thailand, 31 Agustus - 4 September 2016
#blankidea - Abdillahwahab
Visit http://masihpunyadila.blogspot.com



Lisensi Creative Commons
di Perpustakaan oleh Abdillah Wahab disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial-BerbagiSerupa 4.0 Internasional.
Berdasarkan ciptaan pada http://masihpunyadila.blogspot.com/2016/09/di-perpustakaan.html.

Comments