Menjadi Selingkuhanmu

Entah, aku harusnya berdsedih ataukah bahagia hari ini. Melihat kamu tersenyum lebar disana, aku pun ingin tersenyum pula. Betapa berbinarnya mata ini melihat kamu sebahagia itu. Bahagia yang selama ini belum pernah aku melihatnya.  


Mengingat bagaiman kamu membelikan eskrim untukku di kala senja dekat pantai, dengan beberapa lelucon yang kamu ucapkan itu membuatku bahagia. Dan aku melihat kamu pun betapa bahagia mengucapkan itu. Tetapi tak sebahagia hari ini aku melihatmu.


Aku bahagia melihatmu, bahagia sekali. Tetapi tak kupungkirim bahwa ada kegetiran yang kurasa, kau bersamanya. Bukan bersamaku. Kebahagiaan yang tak akan aku bisa mengulangnya bersamamu.


Aku hanyalan perempuan yang kau temani saat kau tak ditemani. Bahkan hanya ketika kamu mau menemani.  Masih terngiang bagaimana kamu mengutarakan sayangmu padaku dulu, tetapi tanpa memberikan janji padaku.


Mungkin sbebarnya aku hanyalah perempuan bodoh yang mau-maunya kamu rayu dengan begitu mudahnya. Padahal aku tahu kau akan menikah bersamanya. Aku tau kau akan meningaalkanku kapan saja.


Aku begitu mencintaimu dengan kebodohanku. Dan lebih bodohnya lagi, hari ini aku datang di pernikahanmu. Kau memang sudah membuatku benar benar bodoh.


Kau tak pernah janji akan selalu bersamaku, meski kau pernah berjanji akan sebisanya menemaniku. Itu janji yang sangat relatif dan penuh ketidak pastian. “Sebisanya” tetapi kenapa begitu mudahnya aku menganggap bahwa janji itu seperti kepastian.


Dan kini, apakah kau bisa menemaniku? Tentu saja tidak bisa. Tapi apakah kamu melanggar janjimu? Lagi lagi aku katakan tidak. Karena kamu memang berjanji “sebisanya”. Kau usahakan bisa pun, sebenarnya sekrang kau tidak bisa.


Bodohnya aku bisa mencintaimu, walau lagi lagi ini salahku.

Comments