Di Batas Puisi


Aku adalah sebaik lelaki yang telah 6 tahun engkau ajari bagaimana mencintaimu. Bagaimana seharusnya marah kepadamu, marah yang tak menyakitimu namun mengajarimu bagaimana menyayangiku dan dirimu sendiri. 
Aku adalah sebait puisi yang telah 72 bulan ber-revisi. Memperbaiki kata demi kata, bahkan setiap huruf aku pilih untuk bisa tetap dengan bahasa yang santun kepadamu, dan tutur yang lebut dihatimu. 
Aku adalah gerimis kerinduan yang telah 12 musim berganti, hingga musim ke-13 telah kemarau. Namun tetap dengan Langit yang tak pernah cerah lagi. Dengan mendung yang akan sangat lama berniat pergi. 
Aku adalah harapan yang engkau sengaja abaikan. Harapan yang awalnya aku sendiri tak berharap menjadi harapanmu.  Harapan yang sebenarnya hanya ingin sedikit lebih dekat denganmu. 
Dan setelah 6 kemarau yang kita lalui bersama, kini hujan ke tujuh telah menghujaniku. Gerimisnya jatuh bersama air mataku membelai pipiku. Sehangat belaianmu dulu. Namun seperih ingatanku kehilanganmu. 
Aku mencintaimu sebelum puisi ini. Dan setelah bait terakhir ini. Aku akan mencintaimu sebagai kenangan. Yang hanya akan datang sesekali, tanpa perlu setiap waktu kutemani. 
Selamat tinggal, engkau yang pernah akan menjadi masa depan

Comments