Malam minggu bersamamu

Waktu itu malam minggu, seperti semalam. Kita suda lelah dengan nafas yg makin sesak. Aku memelukmu, dalam selimut dinginnya dini hari.




Aku memelukmu, mengatakan meyakinkan bahwa kita sudah sampai. Waktu itu menjelang subuh. Dinginnya puncak gunung bukanlah sesuatu yang bisa diajak berkompromi.

Coklat panas di termos yang kubawa, kita bagi berdua untuk penamabah semangat sebelum sunrise yg kita nantikan tiba.

Dan sebelum matakita melihat indahnya sunrise dari lautan awan. Ada yang lebih indah untuk kita saksikan. Pandanglah ke timur diwaktu subuh, dimana indahnya taburan bintang dilangit, dan kilau lampu kota di kaki gunung saling berlomba menarik perhatian yang dibatasi garis horison sang fajar.

Jika kamu bisa melihatnya, kenanglah. Karena diabadikan dengan kamera pun, keindahannya tak akan ikut terabadikan.

Lihatlah keindahan karya tuhan yg hanya sebentar bisa kita lihat. Sama indahnya dengan karya lain dari tuhan, yang sedang kugenggam tangannya.
Kamu, karya terindah dimataku.

Dan aku ingin menikmati menggenggam tanganmu hingga mataku sudah tak mampu melihat sang matahari.

Dan aku hanya bisa melihat wajahmu, yg terpancari sinar matahari hangat di pipi kirimu.
Cantik, kamu cantik.

Demi sang fajar, aku ingin itulah waktu terbaik melamarmu.

Comments