Makan Siang

Suatu ketika aku datang ke tempat kerjamu. Mengunjungimu sebagai seseorang yang spesial bagimu. Sambil bawa kue donut lokal yang paketan. Jadi kamu dan teman-temanmu bisa sama sama menikmati.
Dan ketika itu terjadi, aku ingin bisa makan siang bersamamu. Dimana saja, bahkan jika kamu tak mau keluar, aku akan pergi keluar membeli makanan dan kita makan bersama. Tak harus seromantis sepiring berdua. Cukup kita makan dimeja yang sama.
Sambil cerita soal makanan yang kita santap. Sambil cerita masakan apa yang bisa kamu masak. Dan sedikit cerita soal masakan yang suka aku makan.
Aku tak hiarukan lirikan teman temanmu. Aku pun tak mau dengarkan sindiran dan dehem-man rekan kerjamu. Aku cukup memperhatikan kamu sambil makan, sambil dengar ceritamu.
Terkadang kamu juga merasa agak malu kutatap demikian. Bukan malu kepadaku, tapi malu kepada sekitarmu. Pipi memerah dan senyum manis sambil menunduk yang kamu tampilkan. Buatku makin suka melihatnya. Tapi aku tak ingin lama lama kamu seperti itu. Aku tak ingin bosan dengan senyummu. Aku ingin senyummu itu selalu berharga buatku, sehingga aku ingin selalu buat kamu tersenyum. Tersenyum karena hal yang selalu berbeda.
Karenanya, aku berusaha memalingkan muka agar tak melihatmu, agar kamu berkurang rasa malunya, agar kamu bisa biasa lagi.
Dan ketika itu semua terjadi, kamu akan sadar. Kejadian itu hanya terjadi ditulisan ini. Hanya hidup dalam imajiku, dalam impianku mencintaimu.


Kamu sudah hidup dihatiku. Aku tak memaksamu hidup dalam kehidupanku.

Comments