Masih Introspeksi

untukmu yang selalu mendengar cerita.

dulu ketika dia yang kucintai menyandang usia 6 tahun lebih dariku, aku mencintainya, sama seperti ia mencintaiku. kami berjalan dengan kepercayaan. dengan kejujuran. aku mempercayainya hingga tak pernah merasa ia berbohong, tak merasa ia tak jujur.

dan kemudian ia membuat suatu kondisi dalam hubungan ini, dimana kondisi itu memaksaku untuk memutuskan hubungan ini. hubungan yang sebenarnya aku tak ingin sudahi. banyak alasan yang ia sampaikan hingga ia harus demikian. dan aku terpaksa harus menerima kenyataannya dengan kepahitan kelukaan dan ketidak pastian hatiku.

ia inginkan orang yang 5 tahun lebih dewasa dariku. sedangkan aku, mungkin hanya bisa mengimbangi saja.
ia ingin komitmen yang bisa membawanya pada sebuah keluarga. aku bisa, tapi cukup lama. dan ia tak bisa.
ia ingin seseorang yang menghormati dan menghargai apa yang ia pikirkan, lakukan dan inginkan. dan bodohnya saat itu aku tak bisa.

tiga alasan yang cukup untuk ingin berpisah dariku. dan tiga alasan ini bukan dari orang lain. tetapi dari dirinya sendiri.

aku kecewa, aku marah, aku benci, aku terluka. tapi kenyataannya memang telah dan harusnya demikian.

dan empat tahunpun berlalu. hingga luka itu terobati datangnya seorang yang ku anggap bidadari ke delapan. dan entah sengaja atau memank tuhan gariskan demikian. ia seorang anak pertama dari tiga bersaudara. ia berpendidikan jauh di atasku. keluarga yang lebih kaya dari keluargaku. punya prinsip yang sama keras kepalanya (dan aku suka). dan aku suka sejak pertama bertemu.
itu semua sama dengan empat tahun sebelumnya.

dan kemudian setelah pacaran
jika dengan yang dulu aku tak bisa lebih dewasa. tetapi untuk dengan yang ini. setidaknya aku tidak lebih kekanakan dari dia.

jika yang dulu mengharapkan komitmen, dan kejujuran, juga kepercayaan. dengan yang ini aku tak pernah meninggalkannya. aku jujur, percaya, dan siap mebawanya ke dalam keluarga baru.

jika yang dulu ingin di hargai dan di hormati. dengan yang ini aku sangat menghoramti juga menghargainya.

dan hasil yang ku telaah. tak ada keputusannya yang aku tak hargai juga hormati. sedang hanya satu yang aku tak bisa terima. bukan maksud tak menghargai ataupun menghormati. aku tetap berusaha agar ia mengubah keputusannya. dan tetap saja tak bisa.


dan ternyata hanya satu faktor saja aku menjadi seperti tak menghargainya. dan hanya satu alsan saja (bukan yang seharusnya tiga ) aku tak lagi di cintainya.


hingga ada alasa lain dari luar hatinya dan hatiku (orang tua). kami resmi berpisah.

hingga sekarang aku masih mempelajari apa yang kurang dari ku agar aku tetep bisa menjaga hubunganku dengan siapapun yang terkasih di hatiku.

aku berdoa semoga tuhan tetep memberikan kejernihan hati dan pikiran untukku agar aku akhlas dan berbesar hati untuk membuka hati.


aku percaya tuhan memberikan yang terbaik padaku. untuk keluargaku. untuk masa depanku. :D

Comments